Home » , , , , » BULETIN AL-UKHUWAH: Kehidupan Dunia Kesenangan Menipu

BULETIN AL-UKHUWAH: Kehidupan Dunia Kesenangan Menipu

Written By Arwandy Mu'min on Jumat, 04 Maret 2016 | 17.32


KEHIDUPAN DUNIA, KESENANGAN MENIPU

Dunia merupakan aset bagi manusia yang di dalamnya terkandung kekayaan yang mengagumkan berupa bumi dan segala isinya yang merupakan bentuk pemenuhan kebutuhan manusia dalam menolong perjalanan manusia menuju Allah. Namun yang kita huni ini umurnya sangat pendek, ketenangannya semu, kenikmatannya akan segera sirna dan keindahannya hanya fatamorgana. Untuk itu hendaklah setiap orang berhati-hati terhadap kenikmatan-kenikmatan dunia, karena ia  mampu menjerumuskan ke dalam kekafiran dan bencana, manakala salah dalam mempergunakannya. Kecintaan yang berlebih-lebihan dalam dunia konsekuensinya sangat fatal, bisa menyebabkan kelalaian terhadap penciptanya dan akan merasuki jiwanya. Sehingga ia terpesona dalam keindahannya serta menjadikannya mabuk kepayang terhadap dunia yang akan susah tersadarkan melainkan tatkala ia sudah berada di liang lahat.
Perhatikanlah sebuah perkataan indah yang pernah diucapkan oleh sahabat yang mulia, Umar bin Khaththab, "Celakalah orang yang keinginannya hanya dunia dan kerjanya selalu berbuat kesalahan, besar perutnya, sedikit kecerdasannya. Pandai perkara dunia, tetapi buta perkara akhirat."

Sehingga Rasulullah  sendiri selalu memunajatkan doa agar terhindar dari perhatian terhadap dunia yang berlebihan. Di antara isi doa beliau adalah,
"Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan dunia ini perhatian kami yang paling besar dan sebatas pengetahuan kami." (HR. Tirmidzi).

Dan dalam doa yang lain yang datang dari para ulama salaf,
"Jadikanlah dunia di tangan kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia dalam hati kami."

TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA
            Hati yang tergiur dan terasuki dunia akan terus terdorong oleh nafsunya untuk senantiasa memburu kehidupan materi semata serta selalu ingin menguasai semua yang ada di dunia, sehingga menjadikannya lalai dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Kebanyakan manusia yang terpedaya oleh dunia, lupa akan tujuan hidupnya di alam dunia, yaitu beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, artinya: "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 65).
Mereka juga lupa tujuan Allah menciptakan dunia hanyalah untuk menguji, siapa di antara kita yang paling baik amal perbuatannya. Allah mengabarkan dalam firman-Nya, artinya: "Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka yang terbaik perbuatannya." (QS. Al Kahfi: 7).

CELAAN AL QUR'AN TERHADAP DUNIA
            Kehidupan dunia tak lain hanyalah sebuah permainan yang dapat melalaikan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid: 20).
Dalam ayat lain, Allah berfirman, "Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. An-Nisa': 77).
"Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal." (QS. An-Nahl: 96).
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, seandainya mereka mengetahui." (QS. Al Ankabut: 64).
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya." (QS. Thaha: 131).
Dan masih banyak ayat dalam Al Qur'an yang senada dengan ayat-ayat di atas.
CELAAN RASULULLAH TERHADAP DUNIA
            Rasulullah  telah menjelaskan betapa hinanya kehidupan di dunia ini. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan, dari Jabir, "Nabi  pernah berlalu di sebuah pasar, sedangkan orang-orang berada di sekeliling beliau. Maka beliau berlalu di hadapan bangkai anak kambing yang kedua telinganya putus. Beliau pun mengambil-nya, lantas memegang telinganya. Beliau bertanya, "Siapakah di antara kalian yang mau membeli bangkai ini seharga satu dirham saja?" Mereka menjawab, "Kami tidak ingin membelinya dengan harga berapa pun. Apa yang bisa kami lakukan dengannya?" Beliau bertanya lagi, "Maukah kalian jika ini kuberikan saja kepada kalian"? Mereka menjawab, "Demi Allah, andaikata ia masih hidup, ia tetaplah binatang yang cacat, karena kedua telinganya putus. Bagaimana pula jika ia telah menjadi bangkai?" Beliau pun bersabda, "Demi Allah, dunia ini sungguh lebih rendah nilainya dalam pandangan Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian."
            Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, "Apakah kepentinganku terhadap dunia? Sesungguhnya perumpa-maanku terhadap dunia adalah seperti seorang pengendara yang tidur dinaungi sebuah pohon, kemudian akan pergi dan meninggalkan pohon tersebut." (HR. Ahmad, Tirmidizi dan Ibnu Majah).

"Sungguh merugi para penyembah dinar, para penyembah dirham, dan para penyembah sutra; jika diberikan padanya ia ridha, dan jika tidak diberikan maka ia tidak ridha." (HR.  Bukhari).

"Dunia dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya kelautan, maka hendaklah ia melihat air yang menempel di jarinya setelah ia menariknya." (HR. Muslim).

Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa dunia itu tidak kekal, dan himbauan kepada manusia agar tidak terpedaya oleh dunia sekaligus menyeru kepada manusia untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat.
         
 Adapun celaan Al Qur'an dan Sunnah terhadap dunia itu bukanlah tertuju kepada waktu yang ada di dunia, yaitu siang dan malam, yang keduanya akan selalu berganti siang dan malam sampai hari kiamat. Dan bukan pula tertuju kepada dunia itu sendiri dan keindahan-keindahan yang ada di dalamnya. Akan tetapi celaan itu tertuju kepada perbuatan para hamba yang dilakukan di dunia. Maka hendaklah kita berhati-hati supaya tidak terlena dan terpedaya di dalam kehidupan yang sementara ini, sehingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah pencipta alam semesta.

 Wallahu Waliyyuttawfiq



Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar



 
Departemen Infokom Wahdah Islamiyah Sidrap
Jln. Musang No. 2 Pangkajene. Sidrap-SulSel
Telp. 0421-7010666
Copyright © 2013. Wahdah Islamiyah Sidrap - All Rights Reserved

Admin : @mukm_in