Home » , , , , , , » Adab Seorang Muslim di Musim Hujan

Adab Seorang Muslim di Musim Hujan

Written By Arwandy Mu'min on Sabtu, 12 Desember 2015 | 06.43

Musim kemarau telah  berlalu dan berganti dengan musim penghujan. Satu hal yang patut disyukuri karena Allah Ta’ala masih menurunkan rahmat‐Nya  kepada kita mengingat dosa‐dosa anak Adam sedemikian derasnya terjadi saat ini, sehingga jika kita mau memerhatikan, hampir seluruh dosa umat‐umat terdahulu telah dilakukan oleh umat manusia pada saat ini.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kemarau akan menimpa suatu kaum yang bermaksiat kepada Allah, sedangkan hujan yang diturunkan kepada mereka merupakan rahmat Allah ta’ala kepada hewan ternak. Asy Syaukani dalam Nailul Authar 4/26 mengatakan, “Sesungguhnya turunnya hujan tatkala maksiat tersebar hanyalah rahmat dari Allah Ta’ala kepada hewan ternak.”


Terkait dengan hujan, seorang muslim selayaknya mengetahui berbagai adab yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hujan turun. Beliau telah memberikan teladan kepada umatnya dalam seluruh perkara, tidak terkecuali dalam permasalahan ini.

Bahkan setiap muslim patut mengetahui berbagai tuntunan syariat dalam setiap perkara agar mampu mengamalkannya, sehingga pahala akan senantiasa mengalir kepada dirinya. Adab yang dituntunkan ketika Allah menurunkan hujan‐Nya ke permukaan bumi. Semoga Allah menjadikan amalan ini bermanfaat bagi diri kami pribadi dan kaum muslimin, sesungguhnya hanya kepada‐Nya semata kami memohon hidayah dan ‘inayah.

Asal Muasal Hujan
Sebagian orang yang pernah mengecap pendidikan di bangku sekolah atau kuliah tentu telah mengetahui asal muasal hujan secara ilmiah. Pada kesempatan ini, kita sedikit menyimak perkataan para ulama mengenai asal muasal terjadinya hujan. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka juga mengetahui pengetahuan alam yang bersifat teoritis.

“Para ulama mengatakan bahwa uap air yang berasal dari laut terkadang terkumpul di awan membentuk air hujan dengan ketentuan Allah. Terkadang air hujan tersebut terbentuk di angkasa, kemudian dengan ketentuan Allah hujan tersebut turun kepada manusia. Dia Mahakuasa untuk berbuat hal tersebut, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (QS. Yaasin: 82).

Allah Mahatahu terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan para hamba-Nya. Maka terkadang dengan izin Allah seluruh air ini terkumpul dari samudera kemudian Allah menjadikannya tawar di angkasa, Dia merubah air tersebut, yang semula asin menjadi tawar. Sesuai kehendak-Nya, Allah menggiring air yang berada dalam awan ke berbagai belahan bumi yang membutuhkan. Terkadang Allah menciptakan air tersebut di angkasa, kemudian awan dan angin membawanya ke berbagai tempat yang membutuhkan. Hal di atas telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Miftaah Daaris Sa’adah, juga disebutkan oleh ulama selain Ibnul Qoyyim” (Majmu Fatawa Ibni Baaz 13/87).

Hanya Allah yang Mengetahui Kapan Turunnya Hujan
Waktu turunnya hujan merupakan salah satu dari mafatihul ghaib (kunci-kunci perkara gaib) yang hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada yang mampu mengetahuinya melainkan Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Dan pada sisi Allahlah kunci kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (Al An’aam: 59).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kunci-kunci gaib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah semata. Tidak ada yang mengetahui kejadian di masa depan melainkan Allah semata, tidak ada yang mengetahui apa yang berada di rahim seorang ibu melainkan Allah, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan melainkan Allah semata. Tidak satupun jiwa mengetahui di mana dirinya akan mati dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadi kiamat melainkan Allah semata.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kunci-kunci gaib itu ada lima, sesungguhnya hanya Allah yang mengetahui waktu terjadinya kiamat, turunnya hujan dan apa yang berada dalam rahim. Tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dialaminya besok dan di belahan bumi mana ajal menjemputnya.” (HR. Bukhari).

Adab Adab Ketika Turun Hujan
  1. Takut dan khawatir terhadap siksa Allah
Ummul Mukminin ‘Aisyah radliallahu ‘anha pernah berkata,
 “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat lidahnya, beliau hanya tersenyum. Apabila beliau melihat awan mendung dan mendengar angin kencang, maka wajah beliau akan segera berubah. ‘Aisyah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah! Aku memerhatikan apabila manusia melihat awan mendung, maka mereka bergembira karena mengharap hujan akan turun. Namun, aku memerhatikan dirimu, jika mendung datang, kegelisahan nampak di wajahmu.” ‘Aisyah berkata, “Maka Rasulullah pun menjawab, “Wahai ‘Aisyah tidak ada yang dapat menjaminku, bahwa awan tersebut mengandung adzab. Sungguh suatu kaum telah diadzab dengan angin kencang sedangkan mereka mengatakan, “Inilah awan yang akan mengirimkan hujan kepada kami” (Al Ahqaaf: 24)” (HR. Muslim).
An-Nawawi rahimahullah mengatakan,

“Dalam hadits ini terkandung anjuran untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan berlindung pada-Nya tatkala terjadi perubahan cuaca dan nampak penyebab sesuatu yang ditakutkan. Rasa takut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut karena khawatir umat beliau akan diadzab dengan sebab kemaksiatan yang dilakukan oleh para pelaku maksiat dan beliau akan kembali gembira ketika sebab yang menimbulkan ketakutan telah berlalu (dalam hal ini awan mendung dan angin kencang pent.)”(Syarh Shahih Muslim 6/196).
  1. Berdoa ketika turun hujan
Apabila hujan turun maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat hujan, maka beliau berdoa dengan lafadz,

اَللَّهُم صيبا نَافِعًاَّ
 “Ya Allah, turunkanlah hujan yang baik dan bermanfaat.” (HR. Bukhari).

Dalam al Umm (1/223‐224) Imam Asy-Syafi’i menyebutkan sebuah hadits mursal, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Bergegaslah berdoa di waktu yang mustajab, yaitu ketika bertemunya dua pasukan di medan pertempuran, shalat hendak dilaksanakan, dan turunnya hujan.”
Imam Ibnul Qayyim juga menyebutkan hal ini dalam kitabnya Zaadul Ma’ad (1/439).
  1. Memperbanyak rasa syukur kepada Allah
Bumi yang semula tandus akan kembali subur ketika hujan membasahinya, hal ini merupakan salah satu nikmat Allah yang diturunkan kepada para hamba‐Nya dan patut disyukuri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji” (QS. Luqman: 12).
Imam An Nawawi dalam Al Adzkar (1/182) berkata, “Dianjurkan untuk bersyukur kepada Allah atas curahan nikmat ini, yaitu nikmat diturunkannya hujan.”
  1. Mengguyur sebagian badan dengan air hujan
Dari Anas radliallahu ‘anhu, dia berkata,
“Hujan mengguyur kami beserta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyingkap sebagian bajunya sehingga hujan membasahi sebagian tubuhnya. Kami bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan hal itu? Beliau menjawab, “Aku melakukannya karena hujan tersebut adalah rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah.” (HR. Muslim).


  1. Berdzikir setelah turunnya hujan
Hal ini berdasarkan kandungan yang tersirat dalam hadits Zaid bin Khalid
Al Jahni radliallahu ‘anhu , beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

“Hujan diturunkan kepada kami dengan karunia dan rahmat-Nya.” (HR. Bukhari Muslim).
  1. Berdoa agar cuaca dicerahkan kembali
Apabila hujan turun dengan derasnya, maka kita dianjurkan untuk berdoa kepada Allah agar cuaca dicerahkan kembali, sebagaimana hadits Anas, di mana Rasulullah berdoa dengan lafadz

اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآآَكامِ وَالجبال وَاْلظَرَابِ وَبُطُوْنِ  ِ,  حَوَالِيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا  اَللَّهُمَّ

“Ya Allah turunkanlah hujan di daerah sekitar kami, bukan di daerah kami. Turunkanlah hujan di perbukitan, pegunungan, di lembah-lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” (HR. Bukhari Muslim).
  1. Berdoa ketika mendengar petir
Dari Abdullah ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendengar suara petir, maka beliau berujar,

اَللَّهُمّ لا تَقْتُلْنَا  بِغَضَبِكَ وَلاَ تُهْلِكُنَا بَعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِك
“Ya Allah, janganlah Engkau hancurkan kami dengan kemarahanMu dan janganlah Engkau binasakan kami dengan adzabMu, selamatkanlah diri kami sebelum hal tersebut terjadi” (HR. Bukhari ,Tirmidzi, Hakim).

Dari Abdullah ibnuz Zubair radliallahu ‘anhu dengan status mauquf, bahwasanya beliau tatkala mendengar petir berdoa dengan doa berikut, “Mahasuci Allah, di mana petir bertasbih dengan memuji-Nya, dan juga malaikat karena takut akan kemarahan-Nya” (HR. Bukhari, Malik, Ibnu Abi Syaibah, dengan sanad yang shahih).

     8. Janganlah Mencela Hujan
Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan, “Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”.

Perlu diketahui bahwa setiap yang seseorang ucapkan, baik yang bernilai dosa atau tidak bernilai dosa dan pahala, semua akan masuk dalam catatan malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.
  Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita mampu melewati musim penghujan ini dengan meraup pahala.

Sumber: Buletin al-Fikrah STIBA Makassar edisi ke-8, 06 Jumadal Ula 1436 H/26 Februari 2015 M, dengan perubahan.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar



 
Departemen Infokom Wahdah Islamiyah Sidrap
Jln. Musang No. 2 Pangkajene. Sidrap-SulSel
Telp. 0421-7010666
Copyright © 2013. Wahdah Islamiyah Sidrap - All Rights Reserved

Admin : @mukm_in