Home » , , » Buletin Al-Ukhuwah: Siapkah Anda Untuk Ramadhan?? Ramadhan di ambang pintu

Buletin Al-Ukhuwah: Siapkah Anda Untuk Ramadhan?? Ramadhan di ambang pintu

Written By Arwandy Mu'min on Sabtu, 13 Juni 2015 | 07.55

Dua orang mendatangi Rasulullah ` lalu mengumumkan keislamannya. Meski bersamaan memeluk Islam, ternyata semangat berislam mereka tidaklah sama. Seorang di antara mereka lebih mujtahid, keislamannya lebih baik dari seorang yang lain. Pada suatu medan jihad, berperanglah mujtahid ini hingga syahid di jalan Allah . Sementara seorang yang lain usianya dipanjangkan satu tahun lagi, kemudian ia pun wafat.
Suatu hari, Thalhah Ebermimpi. Inilah kisah mimpinya, “Aku melihat dalam mimpi tengah berada di sisi pintu masuk surga. Ternyata, aku berada di antara mereka berdua (dua sahabat dalam kisah di atas). Tiba-tiba keluarlah seseorang dari dalam surga, lalu mengizinkan sahabat yang wafat belakangan untuk masuk ke dalam surga lebih dulu. Tak lama berselang, orang itu kembali keluar lalu mengizinkan sahabat yang syahid masuk surga. Kemudian orang itu kembali lagi dan berkata kepadaku, “Kembalilah, karena Anda belum diizinkan untuk masuk.” Maka Thalhah pun menceritakan mimpinya kepada orang-orang. Mereka pun takjub dan heran mendengarnya. Maka kisah dalam mimpi itu pun sampai kepada Rasulullah `, lalu mereka menceritakannya kepada beliau. 

“Apa yang membuat kalian heran?”
Mereka menjawab, “Wahai, Rasulullah! Orang yang meninggal lebih dulu ini lebih baik keislamannya, dan dia pun mati syahid. Tapi orang yang wafat belakangan malah masuk surga lebih dulu.” Rasulullah `pun bersabda, “Bukankah ia (yang terakhir wafat) masih hidup setahun setelah syahidnya (orang pertama)?” Mereka berkata, “Benar!” Rasulullah ` melanjutkan, “Dan ia masih sempat mendapatkan bulan Ramadhan lalu ia berpuasa, dan shalat selama setahun?” Mereka berkata, “Benar!” Rasulullah `berkata, “Maka (perbedaan) di antara mereka lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih).
Subhanallah !

Renungkan, ketika kemarin Anda masih bersama dengan saudara-saudara dan teman-teman Anda. Mereka bersama Anda berpuasa, shalat tarawih, dan membaca al-Qur’an. Ternyata, ajal telah datang menjemputnya sebelum sempat bersua dengan Ramadhan tahun ini. Mereka kini berada dalam kubur mereka ditemani amal-amal mereka. Bayangkan keadaan mereka dan perjalanan panjang yang tengah mereka lalui saat ini. 
Pikirkan saudara-saudara dan rekan-rekan Anda yang saat ini tengah terbaring sakit. Mereka menyambut Ramadhan sementara mereka terpenjara di antara tembok-tembok putih. Tiada daya dan upaya, hanya angan-angan semata sekiranya mereka dapat bersama-sama kaum muslimin lainnya menyemarakkan Ramadhan dengan berbagai ibadah.

Renungkan pula keadaan orang-orang yang terhalang dari merasakan nikmatnya Ramadhan. Mereka yang dalam bulan Ramadhan hanya bisa menambah dosa, maksiat dan semakin jauh dari Allah
. Mereka tetap saja menjauhkan diri dari rahmat dan ampunan Allah di waktu yang paling mulia dan mahal sekalipun. 
Renungkan, dan Anda akan mengetahui betapa besar nikmat yang telah Allah berikan kepada Anda.

SUDAHKAH ANDA BERSIAP MENYAMBUT RAMADHAN?

Allah 
ﷻ  berfirman (artinya), “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.”(QS. At-Taubah: 46).

Ibnul Qayyim
tberkata, “Berhati-hatilah terhadap dua perkara. Pertama: Kewajiban telah datang, tetapi kalian tidak siap untuk menjalankannya, sehingga kalian mendapat hukuman berupa kelemahan untuk memenuhinya dan kehinaan dengan tidak mendapatkan pahalanya….”

Allah
berfirman (artinya), “Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Kerana itu, duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.”(QS. At-Taubah: 83).

 
Kita haruslah berhati-hati dari mengalami nasib seperti ini, yaitu menjadi orang yang tidak berhak menjalankan perintah Allah
yang penuh berkah. seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman, berupa tertutupnya hati dari hidayah.

Allah
berfirman (artinya), “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya.” (QS. Al An’am: 110).
Itulah sebabnya pentingnya persiapan dalam menyambut kedatangan Ramadhan, sehingga kita tidak dihukum dengan tidak berdayanya kita dalam melakukan kebaikan dan kehinaan dengan tidak boleh menambah ketaatan.

Mari kita renungkan kembali ayat-ayat di atas. Allah
tidak menyukai keberangkatan mereka lalu Allah lemahkan mereka. Karena tidak ada persiapan dari mereka dan niat mereka pun tidak lurus. 
Namun, apabila seseorang bersiap untuk menunaikan suatu amal, dan ia bangkit menghadap Allah dengan kerelaan hati, maka Allah tidak menolah menolak hambanya yang datang menghadap-Nya. Sehingga dahulu, generasi salafush shaleh selalu mempersiapkan diri-diri mereka dalam menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

BEGINI SEHARUSNYA MENYAMBUT RAMADHAN

Perbarui Taubat

Persiapan lain untuk menyambut Ramadhan adalah taubat. Semoga Allah
mengaruniakan taubat nasuha kepada kita agar Ia ridha. Karena taubat wajib dilakukan seorang hamba setiap saat.
Allah berfirman, artinya, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah , hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Agungkan Perintah dan Larangan Allah

Kita harus memiliki rasa kuatir yang besar, jika kita tetap tidak terbebas dari api neraka meski telah melewati Ramadhan. Bagaimana nasib Bani Israil, tatkala mereka tidak menghormati perintah Allah 
ﷻ  untuk tidak mencari ikan di hari Sabtu? Allah ﷻ  mengubah mereka menjadi kera.
Allah berfirman, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

Ini adalah perintah, kewajiban sekaligus ritual yang agung. Barangsiapa mengagungkannya, dia adalah orang bertakwa. Allah
berfirman, artinya,
“Demikianlah (perintah Allah ), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32).

Secara fitrah, hati manusia membenci kemaksiatan. Tetapi sebagaimana diketahui, fitrah bisa berubah-ubah. Karenanya, sebelum Ramadhan datang, kita harus berusaha mengembalikan fitrah ini ke dalam hati bila ia telah hilang, atau memperkuatnya bila telah melemah. 

Dengannya, seseorang menjadi enggan bermaksiat kepada Allah
, khususnya setelah merasakan kondisi keimanan di tengah ibadah puasa. Agar hati terlatih bersikap enggan terhadap maksiat sebelum Ramadhan datang.

Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan dan mengenal petunjuk Nabi
sebelum memasuki Ramadhan

Pelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang membatalkannya, hukum berpuasa di hari syak, perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti mengadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita berilmu sebelum memahami dan mengamalkannya. 
Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan kepadanya, maka Allah memahamkannya dalam ilmu ad-Diin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

~
Dari berbagai sumber~
Buletin Al-Fikrah No. 26 Tahun XIV 12 Sya’ban 1434 H/21 Juni 2013 M

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar



 
Departemen Infokom Wahdah Islamiyah Sidrap
Jln. Musang No. 2 Pangkajene. Sidrap-SulSel
Telp. 0421-7010666
Copyright © 2013. Wahdah Islamiyah Sidrap - All Rights Reserved

Admin : @mukm_in