Home » , , , , , , » Indahnya Sikap Pertengahan "Menyikapi Fenomena Tahdzir Antara Sikap Berlebihan dan Meremehkan"

Indahnya Sikap Pertengahan "Menyikapi Fenomena Tahdzir Antara Sikap Berlebihan dan Meremehkan"

Written By Arwandy Mu'min on Kamis, 11 Desember 2014 | 22.39



بسم الله الرحمن ارحيم
 
Indahnya Sikap Pertengahan
Menyikapi Fenomena Tahdzir Antara Sikap Berlebihan dan Meremehkan
Oleh : HARMAN TAJANG, Lc. M.H.I
(Disajikan pada acara Tabligh Akbar di Masjid Raya Pangkajene Sidrap,Tgl 17-2-1435 H/10-12-2014)

Muqaddimah
Bersikap pertengahan merupakan perkara yang sangat ditekankan dalam syariat. Islam sebagai agama rahmat/kasih sayang tidak menghendaki pemeluknya berlebihan dalam menjalankan Ibadah dan tidak pula terlalu bermudah-mudahan atau bersikap meremehkan. Sifat pertengahan harus selalu diutamakan dalam menyikapi suatu perkara, karena demikianlah tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ahlu sunnah wal jamaah sebagai kelompok yang telah mendapatkan tazkiyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salah satu cirinya adalah memiliki sikap pertengahan. Pertengahan dalam akidah dan manhaj serta mulia dengan akhlaknya. Mereka tidak mudah mengkafirkan pelaku dosa besar sebagaimana akidah khawarij, tidak pula berkeyakinan bahwa dosa besar tidak mempengaruhi keimanan seseorang, sebagaimana pemahaman murjiah dan tidak pula sebagaimana pemahaman mutazilah bahwa pelaku dosa besar kedudukannya antara dua manzilah, yaitu antara kafir dan beriman akan tetapi pelakunya kekal di neraka.
Adapun ahlu sunnah waljamaah, mereka selalu menempatkan sesuatu seusuai kedudukannya. Bahwa pelaku dosa besar adalah seorang muslim yang kurang keimanannya. Jika Allah menghendaki Allah akan mengazabnya dan jika Allah menghendaki Allah akan mengampuninya. Ahlu sunnah adalah kelompok yang adil, selalu berusaha menghukumi seseorang dengan tidak mengedepankan hawa nafsu dan kebodohan. Ghuluw sangat jauh dari sifat mulia mereka.
Inilah karekteristik ahlu sunnah wal jamaah yang mulia, yang membedakannya dengan beberapa kelompok sesat lainnya. Namun, nama ahlu sunnah kini diperebutkan oleh beberapa kelompok. Lalu setiap kelompok saling mencela satu sama lain dengan menggunakan kalimat-kalimat yang keji, yang kalimat mereka itu hanya pantas di ucapkan oleh orang yang tidak berilmu. Mereka tidak sadar telah masuk dalam talbis iblis yang berupaya menjatuhkan mereka sebagaimana kelompok-kelompok sesat yang kami sebutkan di atas. Sadar atau tidak sadar, sebagian mereka telah terjatuh di dalamnya, bahkan lebih parah lagi. Diantara mereka ada yang menyesatkan saudaranya karena melakukan satu amalan yang hakikatnya bukanlah perbuatan dosa. Akan tetapi perbuatan itu dihias dengan kata-kata yang syari agar enak didengar oleh orang lain, lalu dengan entengnya mereka mengatakan, “ini adalah bentuk tahdziran untuk mereka.”

Fenomena Saling Tahdzir dan Penyesatan Serta Pengkafiran di Kalangan Penuntut Ilmu
Hakikatnya tahdzir merupakan sesuatu yang disyariatkan. Akan tetapi perlu berhahati-hati dalam masalah ini, seorang muslim hendaknya mengecek kebenaran berita yang sampai padanya tentang berita yang membicarakan kehormatan saudaranya dan hendanya senantiasa megedepankan prasagka baik kepad saudaranya . Jangan sampai ia malah mentahdzir suatu kaum dengan perkara yang tidak ada padanya. Tentu hal ini adalah musibah besar bagi dirinya, dimana ia harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah jalla waala tentang kehormatan saudaranya yang ia cemarkan. Sehingga tabayyun/konfirmasi dalam hal ini harus selalu dikedepankan ketika mendengarkan berita. Bahkan ketokohan seseorang yang terkenal dengan luasnya keilmuan dan keimanannya pun jika ia memberitakan satu berita yang tidak sesuai dengan pernyataan pemilik kisah maka kabarnya tertolak.




Cara menyikapi berita yang benar sebegaimana praktek para salaf:

1.     Mendahulukan riwayat pemilik kisah daripada riwayat yang bukan pemilik kisah karena dia lebih tahu apa yang terjadi pada dirinya. Misalnya:

Hadits ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasalam menikahi Maimunah dalam keadaan ihram (kondisi ini diharamkan menikah).[1]

Kemudian ada hadits lain yang menyelisihi hadits Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dari Yazid ibn al-Ashm dia berkata bahwa Maimunah bintu Harits telah menceritakan kepadanya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya dalam keadaan halal.[2]
Dalam kondisi seperti ini, riwayat dari Maimunahlah yang harus didahulukan daripada riwayat ibnu Abbas karena dia adalah pemilik kisah yang lebih tahu tentang dirinya sendiri.

2.     Mendahulukan riwayat yang melihat kisah secara langsung dari yang tidak melihat kisah. Misalnya:

Hadits dari Abdullah ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah dalam keadaan ihram.[3]

Kemudian ada riwayat dari Abu Rafidia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah dalam keadaan halal dan saat itu diriku adalah utusan diantara mereka berdua.”[4]

Maka dalam hal seperti ini, riwayat Abu Rafiharus didahulukan karena dia sebagai utusan yang berada diantara mereka berdua, yang melihat peristiwa secara langsung.[5]

Fenomena Hajr dari Tahdzir Yang Tidak Benar

Hajr adalah sesuatu yang disyariatkan dalam islam asal ketentuan-ketentuannya terpenuhi. Olehnya dalam menghajr seseorang harus memahami beberapa hal berikut:
a.       Maqashid  (tujuan-tujuannya)[6]
1.     Hajr merupakan bentuk hukuman yang syar’i bagi orang yang di Hajr, ini merupakan jenis jihad di jalan Allah agar menjadikan kalimat Allah lebih tinggi.
2.     Membangunkan jiwa-jiwa kaum muslimin dari keterjatuhan mereka pada bid’ah
3.     Mencegah tersebarnya bid’ah
4.     Mencegah para pelaku bid’ah dan melarang mereka, agar mereka semakin lemah dalam menyebarkan bid’ahnya
5.     Memberi tanbih pada pelaku bid’ah akan kesalahannya.





b.       Dhawabith (prinisip-prinsipnya)[7]
Karena hajr merupakan ibadah, maka ada dua syarat yang harus di penuhi, yaitu:
1.     Ikhlas
2.     Al-mutaba’ah
Dalam menghajr seseorang harus memastikan beberapa perkara berikut:
a.     Memastikan dan menkonfirmasi adanya bid’ah. Tidak cukup dengan mendengar dari orang lain atau menaqal (memindahkan berita) dari orang perorang. Bahkan harus memastikan langsung pada pelakunya.
b.    Hendaknya bid’ah itu adalah perkara yang disepakati para oleh ulama, maka tidak boleh menghajr pada perkara yang khilafiyyah.
c.     Sampainya hujjah pada pelaku bid’ah, ia memahaminya, hilangnya penghalang berupa kebodohan, dan teragkatnya syubhat padanya dan terbangun dari kelalaian.

Maka secara singkat dhawabith dari hajr ini adalah:
1.    Memperhatikan perkara mashlahat dan mafsadah (kerusakan)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : "adapun hajr ta'zir (hukuman) seperti yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan hajr Umar dan kaum muslimin pada Shabigh maka, hal ini merupakan hukuman, dan jika cara ini dapat memberi manfaat/kebaikan dan mencegah sebuah kemungkaran maka, ia disyari'atkan, namun jika kerusakan semakin bertambah maka, ia (hajr) tidaklah disyari'atkan".[8]
2. Hukuman terjadi para orang-orang yang berdosa (terus menerus dalam kesalahannya: pent)
Ketidak pahaman sebagian penuntut ilmu akan hal ini membuat mereka merasa enteng dengan perlakuannya. Menyesatkan saudaranya dalam perkara ijtihadiyyah bahkan dalam perkara yang belum pernah di konfirmasi sebelumnya. Jika saja dalam masalah tahdzir dan hajar tidak diperbolehkan dalam masalah seperti ini (khilafiyyah), maka menyesatkan kaum muslimin adalah perbuatan yang lebih rusak dan lebih berbahaya. Hal ini adalah kezholiman terhadap paraduat dan para ulama. Mereka menganggapnya remeh tapi di sisi Allah ini adalah perkara yang sangat besar.
Perbedaan Antara Celaan dan Nasehat

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah memaparkan perbedaan nasehat dan celaan, beliau berkata:

“Perbedaan antara nasehat dan celaan adalah bahwasanya nasehat merupakan perbuatan yang dilandasi kebaikan kepada orang yang dinasehatinya dalam bentuk kasih sayang, kelemah lembutan dan kecemburuan atas kesalahannya. Dia adalah kebaikan, dalam penyampaiannya dengan cinta yang muncul dari kasih sayang dan kelemah lembutan. Tujuannya adalah untuk mengharapkan wajah Allah dan keridhoan-Nya serta kebaikan kepada hamba-Nya. Maka hendaklah seorang pemberi nasehat menyampaikannya dengan sangat lemah lembut dan tidak menyakiti orang yang di nasehati beserta imam-imamnya. Hendaknya ia bermuamalah dengannya sebagaimana muamalahnya seorang dokter  yang penuh kelemah lembutan kepada pasiennya yang sakit. Dokter itu akan berupaya untuk tidak menyakitinya dan menghilangkan perbuatan buruk terhadapnya lalu berupaya semaksimal mungkin dengan kelembutan agar ia bisa mengkonsumsi obatnya. Beginilah seseorang memberikan nasehat. Adapun orang yang mencela adalah seseorang memperlakuan orang lain dengan maksud menghinakan, mencela dan menyakiti dalam bentuk nasehat. Ia berkata wahai fulan seperti ini, seperti ini, wahai orang yang berhak mendapatkan kehinaan dan celaan, dalam bentuk nasehat. Ciri-ciri perbuatan seperti ini adalah, apabila seseorang yang menasehati tadi melihat seseorang mencintainya (orang yang dinasehati) dan berbuat baik padanya atas yang ia perbuat atau merupakan perbuatan buruk baginya (bagi pemberi nasehat) maka dia tidak akan memperhatikannya dan tidak akan berkata apapun padanya satu katapun…
Lalu diantara  perbedaannya pula adalah, bahwasanya seorang yang memberikan nasehat tidak akan memusuhimu jika engkau tidak menerima nasehatnya lalu ia mengatakan telah sampai pahalaku pada Allah engkau menerimanya atau tidak, lalu ia mendoakan kebaikan padamu dalam keadaan engkau tidak mengetahuinya lalu tidak menyebutkan aib-aibmu dan tidak menjelaskannya di hadapan manusia. Adapun seorang pencela, kebalikan dari hal itu.[9]

Al-Imam Ibnu Hazm azh-Zhahiri rahimahullah berkata:

“Dan jangan kamu paksakan nasehat agar diterima. Jika kamu menyelisihi sisi ini, maka kamu adalah seorang yang zholim bukan pemberi nasehat, dan peminta ketaatan kepada yang dinasehati, bukan menunaikan hak amanah dan ukhuwah, ini bukan semata-semata hukum logika, dan bukan juga semata-semata hukum pertemanan, tapi hukum amir (pemerintah) dengan rakyatnya, dan tuan terhadap hambanya.”[10]

Al-Inshof  Permata Salaf Yang Hilang Dari Mereka

Inshof (adil) seharusnya menjadi perhiasan akhlaksetiap muslim, terlebih lagi bagi mereka yang mengaku sebagai penghidup sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena tatkala sifat ini hilang dari kepribadian seorang muslim, maka tabiat babi menghiasi suluk dan perangainya, sebagaimana perkataan al Imam Ibnu Qayyim al Jauziyyah rahimahullah:

“Diantara manusia ada yang tabiatnya seperti tabiat babi. Seekor babi jika melewati sesuatu yang baik-baik maka ia tidak memiliki hajat padanya, akan tetapi apabila ada seorang manusia yang selesai buang kotorannya, maka babi itu akan mendatanginya dan melahap habis kotoran tersebut. Seperti itulah tabiat kebanyakan manusia. Mereka mendengar dan melihat kebaikanmu berlipat-lipat dari kesalahanmu akan tetapi kebaikan itu tidak mereka hafalkan, tidak menukilnya dan tidak pula cocok dengannya. Tapi jika melihat ketergelinciran atau ucapan yang cacat maka ia telah mendapatkan yang dicarinya, dan dijadikannya sebagai buah santapan kemudian ia sebarkan.”[11]

Mari kita menengok akhlak para ulama salaf lalu membandingkannya dengan akhlak mereka yang mengaku paling sunnah. Adalah al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah ketika menguraikan biografi Qatadah Ibnu Diamah as-Sadusi seorang ahli tafsir beliau berkata:

Kemudian seorang alim yang besar, jika kebenarannya jauh lebih banyak, diketahui bahwa ia sangat hati-hati meniti kebenaran, ilmunya luas dan kecerdasannya tampak, kesalehan, kewaraan dan ittibanya kepada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diketahui, maka ketergelincirannya dimaafkan. Kita tidak boleh menyesatkannya, melemparkannya dan melupakan kebaikannya. Benar kita tidak boleh mengikuti bidah dan kesalahannya dan kita berharap ia telah bertaubat dari hal itu.”[12]

Demikian pula saat beliau menjelaskan biografi Muhammad Ibnu Nashr Ibnu al-Hajjaj al-Marwazy[13], imam adz-Dzahabi berkata:

“Dan seandainya setiap kali seorang imam salah dalam ijtihadnya terhadap masalah-masalah tertentu maka kesalahannya itu dimaafkan. Lalu kita berdiri menyerangnya, melemparkan tuduhan bidah dan menghajrnya (mengisolir/mendiamkan). Maka tidak akan ada seorang ulama pun yang akan selamat dari kita. Tidak Ibu Nashr, tidak pula Ibnu Mandah, bahkan tidak pula yang lebih besar dari keduanya. Allah jualah yang memberikan hidayah untuk makhluk-Nya kepada kebenaran, dan Dia Maha Pengasih dan kita berlindung pada-Nya dari kekerasan hati.”[14]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

 “Aku akan selalu berlapang dada terhadap orang yang menyelisihiku walaupun dia berlebihan terhadap batasan-batasan Allah terhadapku misalnya mengkafirkan, memfasikkan, berdusta, atau fanatik kebodohan. Adapun aku, tidak akan membalasnya dengan berlebihan terhadap batasan-batasan Allah. Justru aku akan menyandarkan perkataan dan perbuatanku dengan wazan (timbangan) berupa timbangan keadilan.”[15]




Allah Memperlihatkan Siapa Yang Gemar Berpecah

Jika melihat kenyataan yang terjadi, rupanya orang-orang yang ghuluw dalam mentahdzir sudah saling memakan antar sesama mereka sendiri. Tidak mendapati orang lain siapa yang harus di tahdzir, maka saudara sendiri yang dihantam. Ibarat peminum khamar, peminumnya akan mabuk hingga tidak mengenal siapa lawan atau kawannya. Yang ada di benaknya adalah siapa yang menyelisihihnya akan di maki atau diajak berkelahi.

Rupanya ghuluw telah membuat mereka mabuk dan Allah memperlihatkan siapa sebenarnya yang lebih menjaga persatuan umat ini. Ketika mereka ghuluw mencari seseorang tanpa cela maka diantara mereka sendiri yang dulu bersama dalam satu majelis tiba-tiba saling menyerang bahkan terkadang murid menyerang gurunya sendiri dan saling melepar dengan tuduhan-tuduhan yang keji yang orang awam pun malu mendengar apatah lagi mengucapkannya, semakin terpecahlah mereka dan setiap mereka bangga dengan golongannya bahkan mungkin bangga dengan perpecahan tersebut, semakin bahagialah musuh-musuh Islam dan ahlussunnah, waktu terbuang percuma yang semestinya dimanfaatkan lebih maksmimal untuk menghafal ilmu seperti Al-Qur'an dan As-Sunnah justru habis untuk menyebarkan fitnah keji baik terang-terangan maupun tersembunyi, diawal majelis terkadang nmpak pembahasan ilmiah yang menjadi pembahasan para salaf namun, diakhir majelis hidangan daging para ulama dan para dai yang tidak lepas dari mulut mereka yang berbisa, kekerasan hati semakin terasa, materi ukhuwah tinggallah teori dan kenangan, ketika sesama ikhwah dahulu berjumpa dijalan sapaan hangat menjadi sambutan diantara mereka apatah lagi ketika ia melihat syiar sunnah pada penampilannya, namun sekarang sungguh sangat memilukan, tiada lagi salam, sapaan apatah lagi senyuman, yang ada hanyalah muka masam, cibiran dan saling membelakangi, dan parahnya lagi bid'ah yang seperti ini dilakukan atas nama agama, yang agama berlepas dari akhlak tersebut, pantaslah para ulama menyebut bahwa syaitan lebih senang kepada ahlu bid'ah dari ahlu maksiat karena mereka menganggap kebid'ahan yang mereka lakukan itu adalah ibadah yang mendekatkan mereka pada Allah, wallahul musta'an.

Perpecahan juga terjadi pada mereka yang membuat “piagam prasasti ke ahlusunaan”, dimana yang menanda tangani piagam tersebut adalah ustadz-ustadz ahlu sunnah di Indonesia versi mereka, lalu mengeluarkan rekomendasi beberapa ustadz dan ormas yang sesat menurut mereka. Namun, sungguh miris dan memalukan, mereka justru pada hari ini saling mencaci maki dan saling melabelkan istilah kadzdzab (pendusta) pada sebagian yang lain.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Abul Qasim ‘Ali Ibnu al-Hasan Ibnu Hibatullah Ibnu Asakir rahimahullah, beliau berkata:

 “ketahuilah wahai sadaraku, semoga Allah memberi taufik kepada kami dan juga padamu pada keridhoan-Nya agar termasuk orang-orang yang takut dan bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa bahwasanya daging-daging para ulama rahimahumullah itu beracun.”[16]

Nampaknya racun itu sementara menggerogoti tubuh mereka akibat memakan daging-daging para ulama dalam majelis-majelisnya. Seseorang yang dahulunya diakui oleh gurunya, kini justru ditahdzir oleh gurunya sendiri bahkan dikatakan sebagai pendusta. Begitupula yang lainnya, saling memaki dan mencaci lalu berpecah-belah. Lalu siapa yang menjaga persatuan umat??? Sungguh indah perkataan seorang penyair:

ـjika engkau ingin hidup selamat dari gangguan
Maka hiduplah dengan meninggalkan keburukan manusia
Dan semua orang mengaku punya hubungan dengan Salma
Akan tetapi Salma tidak mengakui pengakuan-pengkuan mereka itu[17]



Nukilan beberapa Nasehat dan fatwa para ulama

NASEHAT EMAS SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata :

وكثير من الناس يزن الأقوال بالرجال، فإذا اعتقد في الرجل أنه معَظَّم: قَبِل أقوالَه وإن كانت باطلةً مخالفةً للكتاب والسنة، بل لا يصغي حينئذ إلى مَنْ يردّ ذلك القول بالكتاب والسنة، بل يجعل صاحبه كأنه معصوم ! وإذا ما اعتقد في الرجل أنه غير معَظَّم : ردَّ أقوالَه وإن كانت حقًّا، فيجعل قائل القول سببًا للقبول والرد من غير وزن بالكتاب والسنة.
وقد قال علي بن أبي طالب رضي الله عنه للحارث بن حوط لما قال له: يا عليّ أتظن أن طلحة والزبير كانا على باطل وأنت على حق؟ [فقال]: لا [يا] حارِ إنه ملبوس عليك، اعرف الحق تعرف أهله، إن الحق لا يُعرف بالرجال، وإنما الرجال يُعرفون بالحق.
وكلّ من اتخذ شيخًا أو عالمًا متبوعًا في كلّ ما يقوله ويفعله، يوالي على موافقته ويعادي على مخالفته غير رسول الله صلى الله عليه وسلم: فهو مبتدع ضالّ خارج عن الكتاب والسنة، سواء كان من أهل العلم والدين - كالمشايخ والعلماء - [أ] و كان من أهل الحرب والديوان - كالملوك والوزراء - .
بل الواجب على جميع الأمة طاعة الله ورسوله، وموالاة المؤمنين على قدر إيمانهم، ومعاداة الكافرين على قدر كفرهم، كما قال تعالى: {إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ} [المائدة: 55 - 56]، وقال تعالى: {وَالمُؤْمِنُونَ وَالمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ} [التوبة: 71].
وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «مَثَل المؤمنين في توادّهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو واحد تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر». وقال: «المؤمن للمؤمن كالبنيان يشدّ بعضه بعضًا وشبَّك بين أصابعه».
وفي «الصحيح» عنه أنه قال صلى الله عليه وسلم: «إنّ الله يرضى لكم ثلاثًا: أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئًا، وأن تعتصموا بحبل الله جميعًا ولا تفرقوا، وأن تناصحوا من ولَّاه الله أمركم». {وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105) يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكْفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (106) وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ} [آل عمران: 105 - 107].
قال ابن عباس: تبيضُّ وجوه أهل السنة والجماعة، وتسودُّ وجوه أهل البدعة والفرقة.
وهذا هو الأصل الفارق بين أهل السنة والجماعة، وبين أهل البدعة والفرقة. فإنّ أهل السنة والجماعة يجعلون رسول الله صلى الله عليه وسلم هو الإمام المطلق، الذي يتبعونه في كلِّ شيء ويوالون من والاه ويعادون من عاداه. ويجعلون كتاب الله هو الكلام الذي يتبعونه كلَّه ويصدِّقون خبره كلَّه، ويطيعون أمره كلّه. ويجعلون خير الهدي والطريق والسنن والمناهج هي سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم.
وأما أهل البدعة فينصبون لهم إمامًا يتبعونه، أو طريقًا يسلكونه، يوالون عليه ويعادون عليه، وإن كان فيه ما يخالف السنة، حتى يوالوا مَن وافقهم مع بُعْدِه عن السنة، ويعادون من خالفهم مع قُرْبه من السنة.
فإذا عُرِف الصراط المستقيم لم يكن بنا حاجة إلى معرفة حقيقة هؤلاء الرجال الذين اشتهروا منهم. وبالله التوفيق ولا حول ولا قوة إلا بالله العزيز الحكيم.
"جامع المسائل " - المجموعة السابعة - (ص 463 - 467 ) .
Hukum Membuat Ormas Islam

Ormas islam bukanlah firqah dalam islam, ia merupakan sarana dakwah yang tujuannya untuk perkembangan dakwah itu sendiri. Syaikh al-Albany rahimahullah ditanya tentang Jamiyyah al-Hikmah al-Yamaniyah (Organisasi al-Hikmah dari Yaman), beliau pun menjawab:

“Setiap jamiyyah (organisasi) yang dibentuk di atas dasar Islam yang benar yang mana hukum-hukumnya disimpulkan dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta berada di atas manhaj para Salafushshalih, setiap organisasi yang didirikan atas dasar ini maka tidak ada alasan untuk diingkari dan dituduh sebagai hizbiyyah, karena hal tersebut termasuk dalam firman Allah Taala: “Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa…” Saling tolong menolong merupakan perkara yang syari dan wasilah (sarana)-nya kadang berbeda antara satu zaman dengan zaman lainnya dan antara satu tempat dengan tempat lainnya dan juga antara satu negara dengan negara lainnya, oleh karena itu menebarkan tuduhan terhadap organisasi yang berdiri di atas dasar ini (al-Quran dan Sunnah) dengan label “Hizbiyyah” atau “Bidiyyah”, maka ini adalah klaim yang tidak boleh seorang pun berpendapat dengannya sebab hal ini menyelisihi apa yang telah ditetapkan oleh para ulama berupa pembedaan antara bidah yang disifati dengan kesesatan secara umum dan sunnah hasanah. Sunnah hasanah merupakan suatu metode yang dibuat dan diadakan sebagai wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan kaum muslimin pada suatu maksud/tujuan dan masyrusecara nash. Jadi, organisasi-organisasi yang ada di zaman ini tidaklah berbeda dengan semua jenis sarana yang ada pada zaman ini yang bertujuan untuk mengantarkan kaum muslimin pada tujuan-tujuan syari. Dan apa yang ada dalam majelis kita ini berupa penggunaan alat rekam dengan ragam jenisnya, adalah bagian dari masalah ini (sarana yang dibolehkan -pent). Ia adalah wasilah yang dibuat baru, jika digunakan untuk mewujudkan tujuan yang syari, maka ia merupakan wasilah yang syari, dan jika digunakan untuk tujuan yang tidak syari, maka ia bukan wasilah yang syari. Demikian pula sarana transportasi yang beragam hari ini berupa mobil, pesawat dan selainnya, semuanya merupakan wasilah, jika digunakan untuk tujuan syari maka ia adalah wasilah yang syari, jika tidak maka ia bukan wasilah syari.”[18]



Nasehat Mulia Syaikh Bakar Abu Zaid, Kepada Setiap Muslim[19]

Kepada setiap muslim. Kepada mereka yang dahulu melakoni tashnif, namun kini telah bertaubat. Kepada mereka yang terkena lemparan-lemparan tashnif namun tetap teguh dan bersabar. Kepada setiap muslim yang gigih menjaga kesucian agamanya, yang takut pada Allah dan merindukan negri akhirat. Kepada seluruh kaum muslimin yang tunduk dan menghamba mencari kebenran di atas manhaj kenabian dan cercah cahaya-cahaya risalah, aku tuliskan risalah ini agar menjadi nasehat bagi kita dengan beberapa prinsip berikut:
1.     Menjadi prinsip utama yang mulia dalam agama ini, bahwa mengoyak dan melecehkan harga diri seorang muslim adalah perbuatan keji yang diharamkan. Ini merupakan perkara yang aksiomatik menjadi bagian penting dalam islam. Kehormatan seorang muslim bahkan termasuk lima perkara yang menjadi tujuan dasar syariat islam.
Maka wajib bagi setiap muslim yang sungguh-sungguh memuliakan agama dan syariat Allah, agar benar-benar memuliakan pula dalam lubuk hatinya kehormatan seorang muslim. Baik itu kehormatan agamanya, darahnya, hartanya, nasabnya, maupun harga dirinya.
2.     Hukum asal bermuamalah dengan seorang muslim adalah hendaknya membangun keyakinan bahwa dia adalah seorang muslim yang berjalan di atas jalan yang lurus, dan engkau tidak berhak mencari kesalahan-kesalahan dan aibnya yang tersembunyi. Maka hindarilah fenomena tahshnif ini, menuduh para kesatria-kesatria dakwah, dan jangan bermudah-mudahan melempar tudhan di sini dan disana. Jauhkanlah tanganmu darinya itu menuntunmu pada kebenaran, itu akan membuatmu tenang dan ridho terhadap jiwa.
3.     Jangan sekali-kali keluar dari dua prinsip ini kecuali engkau memiliki bukti, bukti yang sangat terang benderang, seterang mentari pada pertengahan siang yang terik.  Maka wajib bagimu untuk selalu bertabayyun (mengkonfirmasi) berita yang datang padamu. Jika engkau mendapatkannya maka silahkan lakukan apa yang seharusnya dilakukan.
4.     Siapa yang melanggar prinsip-prinsip itu tanpa bukti yang sungguh meyakinkan, maka ia benar-benar telah merusak kehormatan dan kemuliaan syariat islam dengan cara melecehkan dan menginjak-injak kehormatan saudaranya yang muslim.
5.     Wajib atas seorang muslim memiliki akhlak dan obsesi yang tinggi.
6.     Memang ada orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan pekerjaan menukil berita, ia mengais-ngais berita tanpa melakukan konfirmasi lalu menyebarkannya dengan lisannya. Maka terkadang engkau melihat ia melecehkan sudaranya dengan perkataannya, maka jauhilah jalan mereka dan bila engkau mampu nasehatilah mereka.
7.     Milikilah selalu sikap inshaf. Karena sifat ini tidak akan menutup matamu dari keutamaan seseorang. Dan jika saudaramu berbuat dosa, maka janganlah engkau bahagia dengan dosanya itu,
8.     Jauhilah para pembuat-pembuat fitnah, dai-dai yang gemar membuat fitnah.
9.     Ketahuilah, bahwa melempar tuduhan dan fitnah kepada para dai padahal mereka meniti jalan ahlu sunnah, adalah sebuah upaya untuk menghancurkan dakwah, menghilangkan kepecayaan orang terhadapnya dan memalingkan manusia dari kebaikan.

Wallahu taala Alam.
Semoga bermanafaat


[1] . HR. Bukhari dan Muslim
[2] . HR. Muslim
[3] . HR. Muslim
[4]. HR. Tirmidzi dan Nasai
[5] . Mudzakkirah fii Ushulil Fiqh min Muhadharaat fadhilatusysyaikh ad duktur Muhammad bin Abdurrazzaq ad Duwaisy yang disusun oleh Khairul Masmu Masudi al Banjari al Jawi: 357-358
[6] . Da’watu Ahli al-bida’: 88
[7] . Ibid
[8] . Majmu' fatawa : (28/216,217)
[9] . Ar Ruh fil kalam ‘ala arwaahi al amwaat:  258. (Al maktabah asy-syamilah)
[10] . al-akhlaq wa as-siyar fi mudawamati an-nufus: 45 (al-maktabah asy-syamilah)
[11] . Madariju as-Salikin: 1/403 (al-maktabah asy-Syamilah)
[12] .  Siyar a’lam an-nubala: 9/325 (al-maktabah asy-syamilah)
[13] . Aqidah beliau disebutkan bahwa beliau dengan jelas mengatakan bahwa iman adalah makhluk, dan membaca Qur’an lafazhnya adalah makhluk
[14] . Siyar a’lam an-nubala:  27/38 (al-maktabah asy-syamilah)
[15] . Majmu’ al-fatawa: 3/245 (asy-syamilah)
[16] . Tabyiinu kadzbi al-muftari: 29. (al-maktabah asy-syamilah)
[17] . Majma’ al-hikam wal amtsal (al-maktabah asy-syamilah)
[18] . Silsilah al-Huda wa an-Nur, kaset no. 590 lihat: https://wahdahsurabaya.wordpress.com/2012/11/19/hukum-mendirikan-organisasi-islam-atau-ikut-serta-di-dalamnya/
[19] . Tashnif an-nas baina Azh-zhanni wal yakin: 75-79
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar



 
Departemen Infokom Wahdah Islamiyah Sidrap
Jln. Musang No. 2 Pangkajene. Sidrap-SulSel
Telp. 0421-7010666
Copyright © 2013. Wahdah Islamiyah Sidrap - All Rights Reserved

Admin : @mukm_in