Home » , , , , , » Buletin Al-Ukhuwah "Marhaban Yaa Ramadhan"

Buletin Al-Ukhuwah "Marhaban Yaa Ramadhan"

Written By Admin on Kamis, 19 Juni 2014 | 08.43

Seandainya  seorang tamu yang anda cintai dan anda muliakan menghubungimu dan menga-barkan bahwa dia akan datang kepadamu dan akan tinggal disisimu selama beberapa hari, maka tentu saja anda akan senang dan bahagia, oleh karena itu anda akan bersiap-siap untuk menyambut kunjungan tamu yang anda cintai itu serta melakukan apa yang anda sanggupi mulai dari mengatur dirimu sendiri, membersihkan rumah dan mempersiapkan acara baginya selama anda menjamunya.
Maka bagaimana pendapatmu wahai saudaraku yang tercinta jika tamu yang datang ini bukan hanya dicintai olehmu bahkan dia kecintaan Allah dan Rasul-Nya serta seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini membawa kebaikan dan keberkahan ?

Dia adalah bulan Ramadhan yang mulia. Bulan Qur’an dan puasa, bulan tahajjud dan tarwih, bulan kesabaran dan ketaqwaan, bulan rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Bulan yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang diborgol padanya syaitan, ditutup pintu-pintu neraka dan dibuka pintu-pintu syurga. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan keutamaan bulan tersebut. Bulan yang digandakan padanya kebaikan dan ketaatan, bulan yang didalamnya terdapat pahala-pahala yang agung dan keutamaan-keutamaan yang besar.

Maka sangat pantas bagi setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu yang agung ini untuk menyambutnya dengan sambutan yang sebaik-baiknya dan bersiap-siap untuk menyambutnya dalam bentuk amaliyah agar meraih manfaat yang sangat agung sehingga keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan ruhnya telah suci dan jiwanya telah bersih. Firman Allah subhanahu wa ta’ala

 “Sangat beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya”  (QS. As Syams : 9)

Namun, jika anda perhatikan keadaan dunia Islam dalam menyambut bulan Ramadhan sungguh sangat disayangkan, mereka menyambutnya dengan hal-hal yang kebanyakan bertentangan dengan syari’at Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
 “Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya”. (QS. Yusuf:103)

Diantara mereka ada yang menyambutnya dengan perayaan-perayaan, ada yang menyambutnya dengan mempersiapkan acara-acara begadang sebagian yang lain menyambutnya dengan masuk membeli aneka macam makanan dan minuman.

      Sungguh sangat disayangkan, bulan yang seharusnya disambut dengan taubat, amal shalih dan bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh diganti dengan memperbanyak jenis makanan dan minuman sehingga seakan-akan bulan ini adalah bulan makan, minum dan tidur disiang hari serta begadang pada malam hari dengan berbagai jenis kemaksiatan

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Sejelek–jelek umatku adalah yang dikenyangkan dengan kenikmatan yaitu mereka yang memakan aneka macam makanan” (HR. Baihaqi)

Apa yang kami paparkan merupakan sebagian dari sekian banyak fenomena yang ada pada kaum muslimin dan kesemuanya itu bertentangan dengan petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kepada mereka semuanya kami ingatkan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Sesungguhnya petunjuk Allah adalah sebenar-benarnya petunjuk”  (QS. Al-Baqarah : 120)

Bagaimana seharusnya menyambut bulan ini ?
1.      Berdoa

 Yaitu berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf. Demikian pula memohon kepada Allah pertolongan-Nya dalam melaksanakan puasa, shalat dan amalan-amalan shalih lainnya dengan sebaik-baiknya.

2.      Bersuci dan membersihkan diri.

Yang kami maksudkan disini adalah kebersihan yang sifatnya maknawi yaitu taubat nashuha dari segala dosa dan maksiat dan ini wajib disetiap waktu. Kita katakana kepada ahli maksiat bagaimana pantas anda menyambut hadiah Allah subhanahu wa ta’ala kepadamu sedangkan anda dalam keadaan yang tidak diridhai-Nya ? Bagaimana anda berpuasa dan berbuka dengan barang-barang yang haram ? Wahai yang meninggalkan shalat bagaimana mungkin puasa anda diterima sedangkan anda meninggalkan rukun yang kedua!! Wahai pemakan riba, suap dan harta haram lainnya bagaimana anda menahan diri (berpuasa) dari segala yang mubah (makan dan minum) lalu berbuka dengan sesuatu yang  haram ? Wahai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, bagaimana jiwamu bisa tenang berpuasa  padahal malaikat Jibril telah mendo’akan kejelekan atasmu dan telah diaminkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam!! Wahai yang meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan hal-hal yang haram bagaimana anda mengharapkan puasamu diterima dan bermanfaat padahal anda dalam keadaan seperti ini ? Apakah anda belum dengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada bagi Allah subhanahu wa ta’ala kepentingan terhadap puasanya (yang sekedar meninggakan makan dan minum)”  (HR. Bukhari)

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain:
“Boleh jadi orang yang berpuasa namun bagian yang didapatkannya hanyalah lapar dan haus” (HR. Ahmad)

      Maka bersegeralah bertaubat dengan taubat yang benar dan nasuha karena Alhamdulillah pintu taubat senantiasa terbuka dan taubat bukanlah hanya sekedar meninggalkan dosa-dosa namun taubat yang hakiki adalah anda kembali kepada Zat Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib Jalla Wa ‘Ala dengan jiwa dan ragamu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

 “Maka segeralah kamu kembali kepada (mena’ati) Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu” (QS. Adz Dzariyat : 50)

3.      Mempersiapkan jiwa untuk menyambut bulan puasa.

      Yaitu dengan bersikap loba untuk berpuasa di bulan Sya’ban semampumu demikian pula memperbanyak amal-amal shalih lainnya pada bulan tersebut karena bulan Sya’ban adalah bulan yang diangkat padanya amalan-amalan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Usamah bin Zaid yang diriwayatkan oleh Nasaai dan Ibnu Khuzaimah serta dihasankan oleh Al-Albani  bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa penuh pada bulan Sya’ban atau beliau memperbanyak puasa padanya
4. Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan dan mengenal petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum memasuki puasa : anda mempelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang membatalkannya, hukum berpuasa dihari syak, perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti mengadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita berilmu sebelum memahami dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan termpat tinggalmu” (QS. Muhammad:19)

Didalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mendahulukan perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
 “Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan kepadanya, maka Allah memandaikannya dalam ilmu Ad-Diin” (HR. Bukhari dan Muslim)
5. Mengatur dengan sebaik-baiknya program bagi tamu yang agung ini dengan mempersiapkan program untuk diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang engkau cintai demi memanfaatkan bulan yang mulia ini sebaik-baiknya seperti membaca, mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, qiyamul lail, memberikan buka bagi orang-orang yang berpuasa, umrah, I’tikaf, sedekah, zikir, tazkiyatun nafs dan berbagai jenis ketaatan yang lain.
Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan dan bantulah kami dalam berpuasa, shalat tarawih dan amal shalih lainnya. Ya Allah, teguhkanlah kami dalam ketaatan hingga kami berjumpa dengan-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengabulkan permohonan. Wallahu A’lam.

Maraji: Lembaran dawah yang ditulis oleh Abu Mushab Riyadh bin Abdir Rahman Al-Haqiil

"ANDAI INI RAMADHAN TERAKHIR"

Waktu bergulir cepat
Berlalu hilang, pergi tak mendekat
Berganti bulan, hari, jam dan menit
kini waktu menyapa hangat
Sejuta misteri menyambut tak terlihat
Baik atau buruk, kejutan yang melekat
Hidup di dunia memang penat
Sementara, dan begitu singkat
Itulah takdir Sang Maha Kuat
Hanya Ulul Albab yang berjiwa hebat
yang bisa memetik manfaat.
Senyum sumringah penghujung Sya’aban
Menyambut Tamu penuh kemuliaan
Bintang gemintang dalam kegelapan
Bagai lampu penuntun jalan
Langit cerah biru menawan
Permadani alam dihamparkan
Kicau Burung bernyanyi melantun
Pepohonan menari mengibas angin
Ombak beradu bagai parade di lautan
Gunung kekar, tenang dalam barisan
Tamu agung dalam perjalanan
Tampak anggun dengan sejuta kemenangan
Marhaban ya Ramadhan
Allah berseru,
يآيها الذين آمنوا
“Wahai orang-orang yang beriman”
Wahai yang bersedia menyambut seruan
Wahai yang bersegera dalam kebaikan
Wahai Yang melapangkan dada untuk pengabdian
Wahai yang dikarunia jiwa tenang dan aman
Engkaulah yang Tergerak dan terpanggil untuk ketaatan
كتب عليكم الصيام
“Diwajibkan atas kalian berpuasa”
Menahan lapar dan dahaga
Terhadap si miskin menjadi peka
Persaudaraan semakin terasa
Qiyamullail 11 rakaat dijaga
Ibadah malam jadi terbiasa
Cinta hamba semakin nyata
Lembar demi lembar al-Qur’an terbaca
Demikian pula hadits dan kitab ulama
Kajian pagi dan sore membahana
Sebulan lamanya tak terasa
Karena hari penuh dzikir dan doa
buruk, keji, maksiat dan dosa
ditinggalkan selamanya.
كما كتب على الذين من قبلكم
“Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian”
Merekalah yang menapaki jalan kesuksesan
Penuh kesabaran dan keridhaan
Menjadikan Allah sebagai tujuan
Cita-cita surga menjadi balasan
Merekalah Para Nabi, Siddiqin, Syuhada dan shalihin
لعلكم تتقون
“Agar kalian menjadi hamba yang bertakwa”
Pemenang yang sebenarnya
Hidup berkah dan bahagiah di dunia
Terbebas siksa kubur yang membara dan mendera
di Mahsyar Berkumpul sejahtera
catatan amal penuh kebaikan suka cita
Melewati shirat sekejap kedipan mata
Mampir di Telaga Rasul menghilangkan dahaga
Tanpa hisab dan azab melangkah menuju Surga
Itulah Sebesar-besar pahala
Dari Allah yang Maha Mulia
Berpuasalah wahai Insan yang beriman
Titilah jalan pendahulu kalian
Jangan sombong, tak berbelas kasihan
Setiap hidup berjumpa kematian
Boleh jadi ini terakhir ramadhan
Siapkanlah bekal takwa untuk perjalanan
Raihlah pahala banyak untuk kemenangan
Boleh jadi ramadhan tahun depan
Menjadi sebuah harapan
Karena umur tidak kesampaian.
Akhukum Fillah
Samsul Basri,
(Bogor, 13 Sya’ban 1435H/12 Juni 2014).



Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar



 
Departemen Infokom Wahdah Islamiyah Sidrap
Jln. Musang No. 2 Pangkajene. Sidrap-SulSel
Telp. 0421-7010666
Copyright © 2013. Wahdah Islamiyah Sidrap - All Rights Reserved

Admin : @mukm_in